Scroll to continue reading
Shopee Biarkan Ibu Saya yang Lansia Jadi Korban COD Fiktif, Lalu Tutup Laporan Tanpa Solusi

Shopee Biarkan Ibu Saya yang Lansia Jadi Korban COD Fiktif, Lalu Tutup Laporan Tanpa Solusi

Kepada Yth.
Direksi Shopee Indonesia
c.q. Tim Customer Service Prioritas & Tim Legal

Tembusan:
1. Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Semarang
2. Portal Aduan Konten Kementerian Kominfo

Perihal: Permintaan Pengembalian Dana Rp58.500 atas Pengiriman COD Fiktif yang Tidak Pernah Dipesan serta Penutupan Laporan Secara Sepihak Dua Kali Berturut-turut

Dengan hormat,

Saya, Tarmie, pengguna setia Shopee dengan status VIP, merasa sangat kecewa dan terpaksa menyampaikan keluhan resmi ini langsung kepada jajaran direksi. Masalah yang saya alami bukan sekadar kesalahan kecil, melainkan celah sistem yang merugikan konsumen—bahkan melibatkan orang tua saya yang sudah berusia 65 tahun—serta sikap penanganan laporan yang terkesan lepas tangan.

Nomor kasus terkait:
• Laporan baru: 2073708971177996352 (ditutup sepihak tanpa penyelesaian)
• Laporan lama: 2071266581969805366 (ditutup sepihak dan riwayatnya dihilangkan dari aplikasi)

Kronologi Kejadian

27 Juni 2026
Saya menerima notifikasi WhatsApp mengenai paket COD dengan resi SPXID065576396766 senilai Rp85.350. Saya langsung membalas dengan tegas bahwa saya tidak pernah memesan barang tersebut. Berkat respons cepat, kurir berhasil menolak dan meretur paket tersebut.

28 Juni 2026, pukul 15.58
Kurir kembali menghubungi nomor saya untuk paket resi berbeda: SPXID061115824536. Saat itu saya sedang tidak di rumah dan tidak memegang ponsel. Kurir menunggu di depan rumah dan akhirnya berinteraksi dengan ibu saya. Karena ketidaktahuan dan kurang pahamnya prosedur COD, ibu saya yang sudah lanjut usia terpaksa membayar Rp58.500 menggunakan uang belanja harian keluarga.

Yang lebih mengherankan, di label resi tertulis jelas nama saya (Tarmie) dan nomor HP saya (0896345***18). Paket itu benar-benar atas nama dan nomor saya, padahal sama sekali tidak ada pesanan, notifikasi, atau riwayat transaksi apa pun di akun Shopee saya. Seolah-olah sistem secara sepihak “menciptakan” pengiriman COD tanpa sepengetahuan pemilik akun.

Sepulang ke rumah, ibu saya menceritakan kejadian tersebut. Saya segera menghubungi kurir melalui telepon pukul 18.20 dan menegaskan lewat WhatsApp: “Gak aku gak nduwe orderan.” Status paket di sistem logistik sudah tercatat delivered sejak pukul 15.59.

Yang paling menyentuh hati adalah sikap kurir lapangan. Beliau justru beriktikad baik dan menawarkan untuk mengganti uang tersebut dari kantong pribadinya. Saya menolak dengan tegas karena tidak tega. Ini murni kesalahan celah sistem platform, bukan kesalahan pribadi kurir yang hanya menjalankan tugas mengantar barang.

Hingga saat ini, tidak ada satupun riwayat pesanan, transaksi, maupun notifikasi terkait kedua nomor resi tersebut di dalam akun Shopee saya. Paket SPXID061115824536 masih utuh, tersegel rapat, berat 2,3 kg, dan sengaja tidak dibuka demi menjaga keaslian bukti fisik.

Pada 28 Juni 2026 pukul 23.19, saya langsung membuat laporan resmi kepada petugas bernama Kak B*** dengan nomor laporan awal 2071266581969805366. Namun dalam waktu 3–4 hari, laporan tersebut ditutup sepihak tanpa kejelasan, dan riwayatnya bahkan dihilangkan dari halaman Pusat Bantuan aplikasi saya.

Sebagai pengguna VIP yang seharusnya mendapat layanan CS Prioritas, saya terpaksa membuka laporan baru dengan nomor 2073708971177996352. Meskipun saya sudah memperingatkan dengan sangat tegas agar laporan tidak ditutup sebelum dana di-refund, Shopee justru kembali menutup laporan tersebut secara sepihak melalui agen He**** pada 13 Juli 2026 pukul 17.16 dengan jawaban template robot.

Bagi Shopee, nominal Rp58.500 mungkin terasa sepele. Namun bagi keluarga kami, rasa kecewa melihat ekspresi wajah ibu saya yang merasa bersalah karena salah membayar paket yang tidak pernah dipesan benar-benar menyakitkan. Sangat ironis ketika platform besar hanya membalas dengan jawaban otomatis yang lepas tangan.

Saya sudah mencoba menegur melalui media sosial dengan berkomentar dua kali di akun X (Twitter) resmi Shopee dan satu kali di Instagram, namun tidak mendapat respons. Saya juga telah mengirimkan pengaduan lengkap sekitar tujuh kali ke alamat tim hukum resmi Shopee. Upaya mengirim email ke cs@shopee.co.id dan support.id@shopee.com berulang kali gagal karena alamat tidak ditemukan.

Karena email BPSK Kendal tidak aktif, saya juga telah mengirimkan nota penegasan hukum resmi yang ditembuskan ke Portal Aduan Kominfo guna mendesak tindak lanjut yang adil sesuai regulasi perlindungan konsumen.

Harapan dan Tuntutan Saya sebagai Konsumen
  1. Pengembalian dana Rp58.500 — mengembalikan uang milik orang tua saya secepatnya melalui verifikasi akun terdaftar saya (cnilshop).
  2. Pengambilan paket — mengatur jadwal kurir resmi untuk mengambil kembali paket seberat 2,3 kg yang masih tersegel utuh di rumah saya.
  3. Perbaikan sistemik prosedur COD — Shopee harus memperbaiki sistem logistik agar fitur pembayaran COD hanya dapat diterbitkan jika pesanan tersebut benar-benar tercatat secara sah pada riwayat belanja aplikasi pemilik akun, disertai notifikasi persetujuan ke nomor/email yang terdaftar untuk verifikasi.

Saya tegaskan kembali: masalah ini belum selesai. Melalui surat ini, saya mendesak manajemen tingkat atas Shopee untuk membuka kembali kasus ini secara manual melalui perwakilan manusia, bukan sekadar respons otomatis.

Terima kasih atas perhatian dan ruang yang diberikan.

Hormat saya,

Tarmie
Kendal, Jawa Tengah

Post a Comment
TULIS KOMENTAR